Mekanisme Reaksi
Subsitusi
Nukleofilik SN1
(mahardaniyossigg49.blogspot.com)
(mahardaniyossigg49.blogspot.com)
REAKSI SUBSITUSI NUKLEOFIFLIK
Sama
halnya dengan mekanisme reaksi subsitusi SN2, pada reaksi mekanisme
SN1 juga berasal dari reaksi subsitusi nukleofilik terhadap alkil
halida, dengan rumus umum yang sama yaitu sebagai berikut :
MEKANISME REAKSI
SUBSITUSI NUKLEOFILIK SN1
Pada
alkil halida tersier tidak mengalami subsitusi dengan jalan SN2
karena adanya “hambatan steric-steric hindrance”. Akan tetapi apabila
direaksikan dengan nukleofil lemah seperti H2O atau alkohol, alkil
halida tersier ( kecuali aril atau vinil halida) akan dapat terjadi subsitusi
dengan jalan lain. Mekanisme SN1 (subsitusi , nukleofil, unmolekuler)
adalah ionisasi dari suatu senyawa organik menjadi karbokation dan “gugus yang
meninggalkan-leaving group”,
dilanjutkan dengan kombinasi karbokation dengan nukleofil yang lemah tersebut.
Persamaan
Umum dari Reaksi SN1 :
Gambar 0.2
Reaksi dari alkil halida tersier adalah reaksi dengan pelarut (misalnyaair atau alkohol), maka reaksi ini disebut reaksi sulvolisis ( dari kata “solvent” dan kata Yunani lysis yang berarti pembebasan-loosening atau pemecahan).
Reaksi dari alkil halida dengan jalan SN1
hanya terjadi dalam keadaan nukleofil
lemah karena nukleofil dengan sifat
basa yang lebih kuat akan menghasilkan reaksi dan yang dihasilkan adalah
alkena. Nukleofil lemahpun akan mengalami eliminasi. Dalam materi ini akan
dibicarakan juga mengenai reaksi eliminasi dan nantiya akan dihasilakan suatu
campuran. Maka reaksi SN1 dari alkil halida tidak begitu berguna
untuk teknik sintesis yang umum.
Mekanisme SN1 merupakan
proses dua langkah. Pada langkah pertama yang berjalan lambat, ikatan antara
karbon dengan gugus pergi putus sewaktu substrat tersebut berdisosias.
Gambar 0.3
Gambar 0.3
Gugus pergi terlepas
dengan membawa pasangan elektron, dan terbentuklah ion karbonium. Pada langkah
kedua (tahap cepat), ion karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk produk.
Gambar 0.4
Dalam mekanisme SN1,
substitusi
terjadi dalam dua langkah. Angka 1
digunakan sebab pada langkah lambat hanya satu dari dua pereaksi yang terlibat,
yaitu substrat. langkah ini tidak melibatkan nukleofil.
Salah satu contoh mekanisme reaksi subsitusi nukleofilik
pada SN1 untuk reaksi t-butilklorida dengan H2O
adalah sebagai berikut:
Tahap
1, Ionisasi ( dalam urutan yang paling lambat) :
Gambar 0.5
Gambar 0.5
Tahap
2, Kombinasi :
Gambar
0.6
Tahap
3, Pelepasan H+ pada Pelarut-Reaksi Asam-Basa :
Gambar
0.7
Pada
reaksi tahap akhir dalam solvolisis dari suatu alkil halida adalah lepasnya
proton oleh alkohol berproton atau eter. Reaksi ini adalah asam-basa dan
sebenarnya bukan bagian dari mekanisme SN1. Jalan SN1
adalah reaksi dua tahap saja yaitu (1) ionisasi dari alkil halida menghasilkan
karbokation intermediet dan (2) penyatuan karbokation dengan nukleofil.
Jika
reaksi SN2 terjadi pada karbon kiral, konfigurasi karbon menjadi
berubah dalam hasil reaksi. Dalam reaksi SN1 pada karbon kiral dari
alkil halida yang optis aktif, terjadi Rasemisasi.
Rasemisasi adalah perubahan dari sebuah enansiomer menjadi suatu campuran
resemik. Pengamatan dari tahap pertama reaksi ini memperlihatkan mengapa
terjadi hal ini.
Gambar 0.7
Ionisasi pada tahap 1 akan akan membentuk suatu
karbokation planar akiral. Masuknya sebuah nukleofil dapat terjadi dari kedua
atom karbon yang bermuatan positif itu
dan menghasilkan hasil akhir. Beberapa karbokation bereaksi untuk membentuk
hasil (R) sedangkan karbokation lain bereaksi untuk membentuk hasil (S).
hasilnya adalah campuran (R) dan (S), suatu retmik.
Gambar 0.8
Energi dalam Reaksi SN1
Berikut merupakan gambaran grafik energi untuk mekanisme SN1 dua tahap yaitu ionisasi disebut
dengan penyatuan karbokation intermediet dengan sebuah nukleofil. Oleh karena
ionisasi reaksi lambat, energi dari keadaan transisi adalah titik yang
tertinggi dalam diagram. Karbokation intermediet-energi yang tinggi dan rektif-ditunjukkan
sebagai lekukan dalam diagram energi.
Gambar
0.9
Kecepatan
dalam reaksi SN1
Karena kecepatan dari seluruh urutan reaksi tergantung dari kecepatan dari tahap yang paling lambat, kecepatan reaksi SN1 dari alkil halida ditentukan oleh kecepatan ionisasi ari alkil halida.
Gambar 0.10
Satu-satunya pereaksi dalam tahap ini adalah alkil
halida, maka kecepatan reaksi sebanding dengan konsentrasi alkil halidanya (
dianggap cukup nukleofil untuk reaks berlangsung).Karena kecepatan dari seluruh urutan reaksi tergantung dari kecepatan dari tahap yang paling lambat, kecepatan reaksi SN1 dari alkil halida ditentukan oleh kecepatan ionisasi ari alkil halida.
Gambar 0.10
Gamabar 0.11
Oleh karena hanya sebuah partikel yang terlibat dalam keadaan transisi dari kecepatan terbatas ini, maka reaksi ini disebut unimolekuler (Bahasa Latin unus = satu ).
Faktor
lain seperti temperatur dan struktur dari pelarut akan mempengaruhi kecepatan
reaksi. Jenis pelarut mempunyai pengaruh besar pada kecepatan reaksi SN1.
Pelarut polar seperti air atau larutan pelarut organik dalam air, akan menaikan
kecepatan reaksi SN1 dengan menstabilkan ion intermediat.
Pertanyaan :
1.
Sebelumnya telah
di sampakan materi mengenai mekanisme reaksi subsitusi SN2 dan
sekarang dibahas mengenai mekanisme SN1 . pertanyaannya apa yang
menjadi perbedaan dari kedua reaksi tersebut ?
2.
Apa yang menjadikan
nukleofil lemah dapat mengalami reaksi eliminasi pada mekanisme reaksi
subsitusi nukleofilik SN1 ?
3.
Dalam mekanisme
reaksi subsitusi nukleofil SN1terdapat Reaksi asam-basa dan sebenarnya bukan bagian
dari mekanisme SN1. Mengapa demikian ?













Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya Yuli Pertiwi
BalasHapusNIM : A1C117020
saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1.
Ada beberapa perbedaan antara reaksi SN2 dan reaksi SN1. pertama, reaksi SN2 terjadi pada alkil halida primer dan sekunder sedangkan reaksi SN1 terjadi pada alkil halida tersier. kedua, reaksi pada SN2 berjalan serentak (satu tahap) sedangkan pada SN1 reaksi berjalan melalui dua tahap. Ketiga, reaksi SN1 mengahsilkan 2 produk karna nukleofil dapat menyerang dari 2 arah sedangkan reaksi SN2 menghasilkan 1 produk saja karna nukleofil menyerang dari 1 arah. keemmpat, kecepatan reaksi pada SN2 dipengaruhi oleh konsentrasi kedua pereaksi yaitu nukleofil dan substrat, sedangkan pada reaksi SN1 kecepatan reaksi hanya ditentukan pada langkah pertama dimana nukleofil tidak terlibat.
terimakasih
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Salsa Billa Aprianti akan membantu menjawab permasalahan nomor 2.
BalasHapusDalam kasus ini bukan nukleofilnya yang lemah, tapi basanya yang lemah. Karena yang dapat melakukan penyerangan hanyalah basa lemah, seperti air. Dalam kasus ini, pelarut yang baik mampu melarutkan larutan bermuatan negatif dengan baik. Selain itu, di sini kita membahas SN1 bukan E1. Untuk kasus eliminasi ini sendiri, jujur, saya agak bingung, namun dalam beberapa artikel yang saya temukan sesungguhnya E1 merupakan turunan dari SN1. Karbokation menyumbangkan sebuah proton kepada suatu basa dalam reaksi eliminasi.
Assalamualaikum yossi, saya Enung Sundari dengan nim A1C117056 akan mencoba menjawab permasalahan no.3
BalasHapusSn1 bereaksi dengan basa lemah seperti H2O, ROH. Menurut saya basa disini termasuk kedalam mekanisme Sn1.