Jumat, 08 Februari 2019

Mekanisme Reaksi Substitusi Nukleofilik SN1




Mekanisme Reaksi Subsitusi
Nukleofilik SN1                 

     (mahardaniyossigg49.blogspot.com)

REAKSI SUBSITUSI NUKLEOFIFLIK

            Sama halnya dengan mekanisme reaksi subsitusi SN2, pada reaksi mekanisme SN1 juga berasal dari reaksi subsitusi nukleofilik terhadap alkil halida, dengan rumus umum yang sama yaitu sebagai berikut : 






Gambar 0.1


MEKANISME REAKSI SUBSITUSI NUKLEOFILIK SN1

            Pada alkil halida tersier tidak mengalami subsitusi dengan jalan SN2 karena adanya “hambatan steric-steric hindrance”. Akan tetapi apabila direaksikan dengan nukleofil lemah seperti H2O atau alkohol, alkil halida tersier ( kecuali aril atau vinil halida) akan dapat terjadi subsitusi dengan jalan lain. Mekanisme SN1 (subsitusi , nukleofil, unmolekuler) adalah ionisasi dari suatu senyawa organik menjadi karbokation dan “gugus yang meninggalkan-leaving group”, dilanjutkan dengan kombinasi karbokation dengan nukleofil yang lemah tersebut.

            Persamaan Umum dari Reaksi SN1 :
              Gambar 0.2

           

Reaksi dari alkil halida tersier adalah reaksi dengan pelarut (misalnyaair atau alkohol), maka reaksi ini disebut reaksi sulvolisis ( dari kata  solvent” dan kata Yunani lysis yang berarti pembebasan-loosening atau pemecahan).

Reaksi dari alkil halida dengan jalan SN1 hanya terjadi dalam keadaan nukleofil lemah karena nukleofil dengan sifat basa yang lebih kuat akan menghasilkan reaksi dan yang dihasilkan adalah alkena. Nukleofil lemahpun akan mengalami eliminasi. Dalam materi ini akan dibicarakan juga mengenai reaksi eliminasi dan nantiya akan dihasilakan suatu campuran. Maka reaksi SN1 dari alkil halida tidak begitu berguna untuk teknik sintesis yang umum.

             Mekanisme SN1 merupakan proses dua langkah. Pada langkah pertama yang berjalan lambat, ikatan antara karbon dengan gugus pergi putus sewaktu substrat tersebut berdisosias.
                                          Gambar 0.3

          Gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan elektron, dan terbentuklah ion karbonium. Pada langkah kedua (tahap cepat), ion karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk produk.
                                         Gambar 0.4



Dalam  mekanisme SN1, substitusi terjadi dalam dua langkah. Angka  1 digunakan sebab pada langkah lambat hanya satu dari dua pereaksi yang terlibat, yaitu substrat. langkah ini tidak melibatkan nukleofil.

            Salah satu contoh mekanisme reaksi subsitusi nukleofilik pada SN1 untuk reaksi t-butilklorida dengan H2O adalah sebagai berikut:

Tahap 1, Ionisasi ( dalam urutan yang paling lambat) :
                                       Gambar 0.5
Tahap 2, Kombinasi :
                                         Gambar 0.6

Tahap 3, Pelepasan H+ pada Pelarut-Reaksi Asam-Basa :
                                        Gambar 0.7


    Pada reaksi tahap akhir dalam solvolisis dari suatu alkil halida adalah lepasnya proton oleh alkohol berproton atau eter. Reaksi ini adalah asam-basa dan sebenarnya bukan bagian dari mekanisme SN1. Jalan SN1 adalah reaksi dua tahap saja yaitu (1) ionisasi dari alkil halida menghasilkan karbokation intermediet dan (2) penyatuan karbokation dengan nukleofil.

            Jika reaksi SN2 terjadi pada karbon kiral, konfigurasi karbon menjadi berubah dalam hasil reaksi. Dalam reaksi SN1 pada karbon kiral dari alkil halida yang optis aktif, terjadi Rasemisasi. Rasemisasi adalah perubahan dari sebuah enansiomer menjadi suatu campuran resemik. Pengamatan dari tahap pertama reaksi ini memperlihatkan mengapa terjadi hal ini.
                                      Gambar 0.7

         Ionisasi pada tahap 1 akan akan membentuk suatu karbokation planar akiral. Masuknya sebuah nukleofil dapat terjadi dari kedua atom karbon yang bermuatan positif  itu dan menghasilkan hasil akhir. Beberapa karbokation bereaksi untuk membentuk hasil (R) sedangkan karbokation lain bereaksi untuk membentuk hasil (S). hasilnya adalah campuran (R) dan (S), suatu retmik.
                                         Gambar 0.8

Energi dalam Reaksi SN1 
            Berikut merupakan gambaran grafik energi untuk mekanisme SN1 dua tahap yaitu ionisasi disebut dengan penyatuan karbokation intermediet dengan sebuah nukleofil. Oleh karena ionisasi reaksi lambat, energi dari keadaan transisi adalah titik yang tertinggi dalam diagram. Karbokation intermediet-energi yang tinggi dan rektif-ditunjukkan sebagai lekukan dalam diagram energi.
                                          Gambar 0.9
Kecepatan dalam reaksi SN1
            Karena kecepatan dari seluruh urutan reaksi tergantung dari kecepatan dari tahap yang paling lambat, kecepatan reaksi SN1 dari alkil halida ditentukan oleh kecepatan ionisasi ari alkil halida.
                                          Gambar 0.10
         Satu-satunya pereaksi dalam tahap ini adalah alkil halida, maka kecepatan reaksi sebanding dengan konsentrasi alkil halidanya ( dianggap cukup nukleofil untuk reaks berlangsung).
                                                            Gamabar 0.11

         Oleh karena hanya sebuah partikel yang terlibat dalam keadaan transisi dari kecepatan terbatas ini, maka reaksi ini disebut unimolekuler  (Bahasa Latin unus = satu ).


            Faktor lain seperti temperatur dan struktur dari pelarut akan mempengaruhi kecepatan reaksi. Jenis pelarut mempunyai pengaruh besar pada kecepatan reaksi SN1. Pelarut polar seperti air atau larutan pelarut organik dalam air, akan menaikan kecepatan reaksi SN1 dengan menstabilkan ion intermediat.
Pertanyaan :

1.      Sebelumnya telah di sampakan materi mengenai mekanisme reaksi subsitusi SN2 dan sekarang dibahas mengenai mekanisme SN1 . pertanyaannya apa yang menjadi perbedaan dari kedua reaksi tersebut ?
2.      Apa yang menjadikan nukleofil lemah dapat mengalami reaksi eliminasi pada mekanisme reaksi subsitusi nukleofilik SN1  ?
3.      Dalam mekanisme reaksi subsitusi nukleofil SN1terdapat  Reaksi asam-basa dan sebenarnya bukan bagian dari mekanisme SN1. Mengapa demikian ?
 








4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Saya Yuli Pertiwi
    NIM : A1C117020
    saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1.
    Ada beberapa perbedaan antara reaksi SN2 dan reaksi SN1. pertama, reaksi SN2 terjadi pada alkil halida primer dan sekunder sedangkan reaksi SN1 terjadi pada alkil halida tersier. kedua, reaksi pada SN2 berjalan serentak (satu tahap) sedangkan pada SN1 reaksi berjalan melalui dua tahap. Ketiga, reaksi SN1 mengahsilkan 2 produk karna nukleofil dapat menyerang dari 2 arah sedangkan reaksi SN2 menghasilkan 1 produk saja karna nukleofil menyerang dari 1 arah. keemmpat, kecepatan reaksi pada SN2 dipengaruhi oleh konsentrasi kedua pereaksi yaitu nukleofil dan substrat, sedangkan pada reaksi SN1 kecepatan reaksi hanya ditentukan pada langkah pertama dimana nukleofil tidak terlibat.
    terimakasih

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Salsa Billa Aprianti akan membantu menjawab permasalahan nomor 2.

    Dalam kasus ini bukan nukleofilnya yang lemah, tapi basanya yang lemah. Karena yang dapat melakukan penyerangan hanyalah basa lemah, seperti air. Dalam kasus ini, pelarut yang baik mampu melarutkan larutan bermuatan negatif dengan baik. Selain itu, di sini kita membahas SN1 bukan E1. Untuk kasus eliminasi ini sendiri, jujur, saya agak bingung, namun dalam beberapa artikel yang saya temukan sesungguhnya E1 merupakan turunan dari SN1. Karbokation menyumbangkan sebuah proton kepada suatu basa dalam reaksi eliminasi.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum yossi, saya Enung Sundari dengan nim A1C117056 akan mencoba menjawab permasalahan no.3
    Sn1 bereaksi dengan basa lemah seperti H2O, ROH. Menurut saya basa disini termasuk kedalam mekanisme Sn1.

    BalasHapus

Reaksi Bersaing SN2 dan E2

Reaksi Bersaing SN2 dan E2          Kali ini kita akan membahas mengeni reaksi bersaing antara SN2 dan E2 dimana sama seperti sebelumnya di...