Kamis, 14 Februari 2019

Mekanisme reaksi eliminasi E2


Mekanisme reaksi eliminasi E2
          


  Beberpa nukleofil, sepeti OH- dan OR-, adalah basa kuat. Suatu alkil halida  tersier tidak dapat mengadakan penggantian tempat dari belakang SN2 karena adanya hambatan sterik. Akan tetapi, apabila dipanaskan dengan suatu basa kuat, biasanya K+ OH-yang dilarutkan dalam etanol, alkil halida tersier akan mengadakan reaksi eliminasi untuk menghasilkan alkena. Reaksi eliminasi ini berjalan dengan cara lain dari mekanisme E1 disebut mekanisme E2 (eliminasi biomolekuler).

Mekanisme E2
            Reaksi E2  adalah reaksi satu tahap seperti juga reaksi SN2 . Basa kuat mengambil sebuah proton dari alkil halida, pasangan elektron dari ikatan π dan ion halidanya lepas dalam satu tahap.

 Reaktivitas dari reaksi E2
Reaksi eliminasi dari alkil halida tersier dengan jalan E2 adalah cepat, alkali halida sekunder lebih lambat dan alkil halida tersier paling lambat. Metil halida tidak mengalami reaksi ini:

 Alkil halida primer umumnya tidak tergantung dari reaksi E2 karena reaksi subsitusinya akan selalu terjadi ( ingat reaktivitas SN2 dari 3o RX<<< 2o RX < 1o RX)

Campuran Alkena
Dalam reaksi E2 proton yang diambil oleh basa  adalah suatu ᵦ (beta) hidrogen:

 Dalam reaksi E2, sebuah ᵦ hidrogen diambil:      


Dalam reaksi eliminasi dari t-butil halida, hanya satu alkena dapat dibentuk karena semua ᵦ hidrogen adalah sama. Akan tetapi, alkil halida yang mungkin mengandung ᵦ hidrogen yang tidak sama, alkil halida ini menghasilkan campuran dari alkena apabila tergantung dari reaksi eliminasi.




 Apabila suatu reaksi eliminasi dilakukan dalam laboratorium, jumlah yang sama dari semua alkena yang terbentuk tidak didapat. Umumnya alkena yang paling stabil yang terbentuk , tetapi hasilnya tergantung dari sifat halida dan basanya. Dalam keadaan basa, alkena yang paling stabil adalah trans alkena yang paling banyak subsitusinya. Misalnya, dalam reaksi eliminasi dari  2-bromo, hasil utama adalah trans-2-butena.




Permasalahan:
1)      Reaksi E2 pada alki halida tersier lebih cepat dari pada reaksi E2 pada alkul halida sekunder. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
2)      Reaksi E2  adalah reaksi satu tahap seperti juga reaksi SN2 apakah ada perbedaan dari kedua reaksi tersebut, jika iya atau tidak berikan alasan spesifiknya?
3)      Dalam reaksi E2, sebuah ᵦ hidrogen Umumnya alkena yang paling stabil yang terbentuk , tetapi hasilnya tergantung dari sifat halida dan basanya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi, jelaskan?

3 komentar:

  1. Nama: Rahma
    Nim : A1C117018
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 2

    Menurut pendapat saya perbebedaan antara E2 dan SN2 yaitu salah satunya dari segi pengertian eliminasi dan substitusi. SN2 merupakan reaksi substitusi nukleofilik bimolekuler, dimana substitusi berarti menggantikan. Sedangkan E2 merupakan reaksi eliminasi bimolekuler, dimana eliminasi berarti menghilangkan. Jadi kesimpulannya yang membedakan keduanya adalah kalau E2 itu menghilangkan suatu gugus atom pada suatu senyawa. Sedangkan SN2 itu menggantikannya. Terimakasih

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum, saya Enung Sundari dengan nim A1C117056 akan memcoba menjawab pertanyaan no.3
    Menurut sumber yang saya baca bahwasannya beta hidrogen bila sudah terbentuk alkena maka akan dibuang karna tidak dapat melakukan eliminasi.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum saya Angesti Dhitya NIm A1C117004 ingin menjawab pertanyaan nomor 1 jawabannya karena alkil halida tersier itu tingkat kepolarannya lebih tinggi dari pada alkil halida sekunder ataupun primer sehingga saat bereaksi lebih cepat.

    BalasHapus

Reaksi Bersaing SN2 dan E2

Reaksi Bersaing SN2 dan E2          Kali ini kita akan membahas mengeni reaksi bersaing antara SN2 dan E2 dimana sama seperti sebelumnya di...